Senin, 14 November 2011

BANDARA MAJALENGKA,KERTAJATI IBUKOTA NKRI

BANDARA   MAJALENGKA , yang mempunyai LUAS area 1800Ha, dari pantauan yang ada,  baru terbebaskan kurang Lebih 460 Ha, ketika langsung meninjau Calon Lokasi Area Lahan BANDARA,-
Dibandingkan kebutuhan mendesak BANDARA Kulonprogo yang perlu segera dibangun,untuk kebutuhan
mendesak Daerah Istrimewa Yogyakarta,-
Jika dilihat dari Dasar Dukungan LOAD FACTOR atau Kegiatan Lalu Lintas Pariwisata,Perdagangan,Perekonomian  Dan lain lain, semua ini TOP DOWN bukan Buttom UP.-

Paramenternya adalah SEMINAR tahun 60an yang disponsori oleh Kalangan Angkatan Darat, yang menghasilkan rumusan Pemindahan IBU KOTA NEGARA dengan Catatan sebagai berikut;
1, Untuk wilayah Jawa bagian Barat sekitar CIREBON yang dimaksud adalah Kadipaten Majalengka.-
2, Untuk wilayah Jawa bagian Tengah sekitar Magelang yang dimaksud adalah Mungkid,-
3, Untuk wilayah Jawa bagian Timur sekitar Malang yang dimaksud adalah Lawang,-

Apabila 3 wilayah tersebut tidak cocok atau kurang memadai maka alternatif adalah Palangka Raya,
mengingat semua ini adalah Strategi 50 tahun kedepan dan ketika penyelenggaraan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari Tahun 1945 sampai saat  ini ditulis 12 Nopember 2011, telah mencapai 66 tahun lebih ternyata baru dikuak hampir terlambat diteruskan, seharusnya dimulai secara bertahap pada tahun 1990, karena berkenaan Rencana Pembangunan Lima Tahun yang di Amanatkan Oleh Presiden Soeharto dan pesan pribadi itu diterima untuk kerangka Strategi Desa mengepung Kota.-

Lingkungan Kekuasaan telah banyak memberikan peluang orang yang mendekati dan mengaburkan RENCANA TATA RUANG WILAYAH yang dikenalkan saat ini, Kalau ditinjau semua master Plan banyak konsep harus di Daur Ulang atau Restorasi bentuk dari nilai asli yang sebenarnya,-
Sebagai Contoh Area bekas Bandara Kemayoran yang seharusnya Menjadi Master Plan Pertokoan Perkantoran Super Modern malah diabaikan, Mengingat tidak sabarnya para Pengelola kebijakan Pemerintah dalam menuangan RTRW untuk wilayah Jakarta BARAT-UTARA-TIMUR-SELATAN, yang pada dampaknya menghasilkan carut marut basis Pemukiman Mewah,Sedang serta tersingkirnya kalangan Madani yang Miskin.

Tulisan ini sengaja membidik Jakarta yang dekat Pemerintah Pusat, sebagai Contoh agar tidak diteladani bagi Pemerintah Daerah diwilayah NKRI, untuk mecermati  membuat Master Plan daerah dengan melihat Sumber Alam serta Kandungan, merujuk kerjasama otonomi Daerah berkenaan pergerakan Industri,Perdagangan, Barang dan Jasa, Perekonomian Unggulan tanpa harus meninggalkan sumber pemenuhan kedaulatan Pangan atau mengkorbankan demi kepentingan sesaat Pendapatan Asli Daerah, yang pada ahkirnya menuai rapuhnya eleman dasar pola pembangunan.-

Harapan ini meletakan komponen dasar membangun Untuk Siapa dan Siapa yang dibangun,jangan ada lagi Pembagunan di Indonesia telah mengasingkan rakyatnya dan terjebak perbudakan dinegerinya sendiri, seperti banyaknya Orang berkata Negara yang Gagal melindungi serta memberikan kesejahteraan, Sesungguhnya kelalaian dalam strategi pembangunan pada pola pendekatan segala aspect disiplin ilmu,-
Dan terjebaknya banyak orang dan Orang banyak pada Pratek2 Politik Kekuasaan, Ayo Bangun !!!

Dari Penulis Bandara Kulonprogo " Joko Dulang Mas Project ".-
Kawasan Ekonomi dan Pertahanan .-
Ketua Pjs Lapangan Yayasan Misi Kesejahteraan Bangsa Indonesia.-
Eko Donopati ( Staff PKRI Yon Serna )

--> Untuk Wilayah NKRI yang berbatasan dengan Negara Lain, menimal sangat merujuk seluruh Aspect
       disiplin Ilmu dengan Ketahanan menimalkan Sengketa Perbatasan Antar Warga Sipil,serta pengaruh       Indoktrinasi Wawasan Politik melalui Seni Budaya kesejangan Ekonomi, terutama Kesempatan dengan Peluang Kerja sebagai ukuran kewajaran nilai Induksi Sosial









 ADA YANG BERTANYA TENTANG DANANYA --> SILAHKAN TANYA SAMA JAS MERAH

Pernyataan BAPAK HATTA RAJASA MENKOEKO

Bandara Baru Kertajati Majalengka Jawa Barat akan dibangun mulai tahun depan



TEMPO Interaktif, BANDUNG- Bandara Baru Kertajati Majalengka Jawa Barat akan dibangun mulai tahun depan. Komitmen ini disampaikan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Radjasa saat berkunjung ke PT Pindad Bandung. “Investor India sudah ada yang tertarik,” katanya di Bandung Ahad 7 Agustus 2011.
Menurut Hatta pembebasan lahan 800 hektar bandara kedua di Jawa Barat ini telah selesai. Pernyataan Hatta dibenarkan oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Lex Laksamana. Menurut Lex sebelumnya bandara tersebut memiliki lahan 500 hektar. Tambahan 300 hektar baru terwujud pada tahun ini. “Pembebasan lahan sudah selesai,” ujarnya.

Menurut Lex bandara baru ini berjarak 35 kilometer dari Cirebon dan 65 kilometer dari Bandung. Lokasi Bandara berdekatan tol baru yang sedang dibangun sesuai Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia.

Hatta mengatakan Bandara tersebut izinnya diberikan saat ia menjadi Menteri Perhubungan. “Dulu proyek non-APBN,” katanya. Menurut Hatta pembangunan bandara tersebut lantaran bandara Soekarno-Hatta memiliki beban yang sangat berat. “Begitupula Bandara Husein di Bandung,” ujarnya. Pembangunan bandara, Hatta menambahkan, harus melibatkan kerjasama dengan investor.

Minggu, 13 November 2011


BANDARA   MAJALENGKA , yang mempunyai LUAS area 1800Ha, dari pantauan yang ada, yang baru terbebaskan kurang Lebih 460 Ha, ketika langsung meninjau Calon Lokasi Area Lahan BANDARA,-
Dibandingkan kebutuhan mendesak BANDARA Kulonprogo yang perlu segera dibangun,untuk kebutuhan
mendesak Daerah Istrimewa Yogyakarta,-
Jika dilihat dari Dasar Dukungan LOAD FACTOR atau Kegiatan Lalu Lintas Pariwisata,Perdagangan,Perekonomian  Dan lain lain, semua ini TOP DOWN bukan Bottom UP.-

Paramenternya adalah SEMINAR tahun 60an yang disponsori oleh Kalangan Angkatan Darat, yang menghasilkan rumusan Pemindahan IBU KOTA NEGARA dengan Catatan sebagai berikut;
1, Untuk wilayah Jawa bagian Barat sekitar CIREBON yang dimaksud adalah Kadipaten Majalengka.-
2, Untuk wilayah Jawa bagian Tengah sekitar Magelang yang dimaksud adalah Mungkid,-
3, Untuk wilayah Jawa bagian Timur sekitar Malang yang dimaksud adalah Lawang,-

Apabila 3 wilayah tersebut tidak cocok atau kurang memadai maka alternatif adalah Palangka Raya,
mengingat semua ini adalah
 Strategi 50 tahun kedepan dan ketika penyelenggaraan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari Tahun 1945 sampai saat  ini ditulis 12 Nopember 2011, telah mencapai 66 tahun lebih ternyata baru dikuak hampir terlambat diteruskan, seharusnya dimulai secara bertahap pada tahun 1990, karena berkenaan Rencana Pembangunan Lima Tahun yang di Amanatkan Oleh Presiden Soeharto dan pesan pribadi itu diterima untuk kerangka Strategi Desa mengepung Kota.-

Lingkungan Kekuasaan telah banyak memberikan peluang orang yang mendekati dan mengaburkan RENCANA TATA RUANG WILAYAH yang dikenalkan saat ini, Kalau ditinjau semua master Plan banyak konsep harus di Daur Ulang atau Restorasi bentuk dari nilai asli yang sebenarnya,-
Sebagai Contoh Area bekas Bandara Kemayoran yang seharusnya Menjadi Master Plan Pertokoan Perkantoran Super Modern malah diabaikan, Mengingat tidak sabarnya para Pengelola kebijakan Pemerintah dalam menuangan RTRW untuk wilayah Jakarta BARAT-UTARA-TIMUR-SELATAN, yang pada dampaknya menghasilkan carut marut basis Pemukiman Mewah,Sedang serta tersingkirnya kalangan Madani yang Miskin.

Tulisan ini sengaja membidik Jakarta yang dekat Pemerintah Pusat, sebagai Contoh agar tidak diteladani bagi Pemerintah Daerah diwilayah NKRI, untuk mecermati  membuat Master Plan daerah dengan melihat Sumber Alam serta Kandungan, merujuk kerjasama otonomi Daerah berkenaan pergerakan Industri,Perdagangan, Barang dan Jasa, Perekonomian Unggulan tanpa harus meninggalkan sumber pemenuhan kedaulatan Pangan atau mengkorbankan demi kepentingan sesaat Pendapatan Asli Daerah, yang pada ahkirnya menuai rapuhnya eleman dasar pola pembangunan.-

Harapan ini meletakan komponen dasar membangun Untuk Siapa dan Siapa yang dibangun,jangan ada lagi Pembagunan di Indonesia telah mengasingkan rakyatnya dan terjebak perbudakan dinegerinya sendiri, seperti banyaknya Orang berkata Negara yang Gagal melindungi serta memberikan kesejahteraan, Sesungguhnya kelalaian dalam strategi pembangunan pada pola pendekatan segala aspect disiplin ilmu,-
Dan terjebaknya banyak orang dan Orang banyak pada Pratek2 Politik Kekuasaan, Ayo Bangun !!!

Dari Penulis Bandara Kulonprogo " Joko Dulang Mas Project ".-
Kawasan Ekonomi dan Pertahanan .-
Ketua Pjs Lapangan Yayasan Misi Kesejahteraan Bangsa Indonesia.-
Eko Donopati ( Staff PKRI Yon Serna )

--> Untuk Wilayah NKRI yang berbatasan dengan Negara Lain, menimal sangat merujuk seluruh Aspect
disiplin Ilmu dengan Ketahanan menimalkan Sengketa Perbatasan Antar Warga Sipil,serta pengaruh       Indoktrinasi Wawasan Politik melalui Seni Budaya kesejangan Ekonomi, terutama Kesempatan dengan Peluang Kerja sebagai ukuran kewajaran nilai Induksi Sosial

ADA YANG BERTANYA TENTANG DANANYA --> SILAHKAN TANYA SAMA JAS MERAH

BANDUNG: Pemprov Jawa Barat berharap pemerintah membantu pembangunan Bandara Internasional Kertajati di Kabupaten Majalengka, daripada membangun bandara baru di kawasan Cikarang-Karawang, Bekasi.

Kepala Dinas Perhubungan Jawa Barat Dicky Saromi mengatakan pihaknya memang tetap akan membantu pemerintah pusat jika akan melakukan studi pembangunan bandara di kawasan Cikarang.
“Tetapi kami tetap berkonsentrasi juga untuk membangun Bandara Kertajati, namun kami juga akan membantu studi pembangunan rencana bandara baru,” kata Dicky kepada Bisnis, hari ini.

Meski masih wacana, lanjut dia, pihaknya menilai akan lebih baik jika pembangunan bandara dilakukan di wilayah timur Jabar karena sesuai dengan rencana tata ruang wilayah (RTRW) Pemprov Jabar.
Dia menjelaskan RTRW Jabar menetapkan seluruh pembangunan ke depannya akan difokuskan di kawasan Jabar sebelah timur, termasuk pendirian bandara di wilayah Kertajati Majalengka.

“Harus dipikirkan juga lokasi bandara [Cikarang] yang nantinya yang berada di antara metropolitan Jakarta dan metropolitan Bandung. Sebab, lokasi bandara harus menampung arus kendaraan dan manusia dari dua kota besar serta menumpuk di satu titik.”Selain menghindari kepadatan dua kota metropolitan tersebut, aspek lingkungan seperti hutan dan sawah yang akan terancam oleh pembangunan juga harus diperhatikan.

Kendati rencana pembangunan tersebut masih dalam taraf studi, Dicky menilai upaya pembangunan harus melihat kepentingan masyarakat secara lebih luas, atau tidak hanya penduduk kawasan Jabodetabek dan Bandung saja.Selain itu, rencana tersebut juga belum tertuang dalam bentuk peraturan ataupun blue print apapun. Tidak seperti pembangunan Bandara Kertajati yang sudah menjadi bagian dari pembangunan Jabar.

“Kalau mau melakukan studi silahkan saja, tapi kami menilai akan lebih baik jika menindaklanjuti pembangunan Bandara Kertajati saja daripada membangun bandara baru. Yang jelas, kami tetap fokus membangun Kertajati,” kata Dicky. mengemukakan, saat ini proses pembebasan lahan untuk pembangunan bandara sudah mencapai 530 hektare, dan diharapkan pada akhir tahun lahan seluas 600 ha bisa dibebaskan.Pembangunan calon bandara terbesar di Jabar ini membutuhkan lahan seluas 5.000 ha, 1.800 ha diantaranya diperuntukan bagi pembangunan bandara, sementara sisanya atau 3.200 ha digunakan untuk pembangunan Aero City.(api)